PENDIDIKAN KARAKTER SEBAGAI PRIORITAS TUJUAN PENDIDIKAN

Oleh: Riyanto

Pendidikan karakter saat ini kembali hangat diperbincangkan, karena munculnya berbagai fenomena yang mengindikasikan adanya fakta bahwa banyak siswa sebagai produk pendidikan di sekolah tidak menampakkan kualitas moral dan karakter yang baik.  Meskipun prestasi gemilang juga sering diukir anak-anak Indonesia seperti yang baru-baru ini ditunjukkan yakni meraih penghargaan dengan menjadi juara umum dalam International Conference of Young Scientists (ICYS) atau Konferensi Internasional Ilmuwan Muda se-Dunia yang diikuti ratusan pelajar SMA dari 19 negara di Bali pada 12-17 April 2010, atau berbagai prestasi olimpiade pelajar tingkat dunia. Tetapi berita dan kegemilangan  itu seakan tenggelam dengan berbagai tayangan-tayangan kekerasan  yang ironisnya berasal dari dunia pendidikan.

Sudah begitu sering – kalau tidak mau dikatakan hampir setiap hari – kita mendengar dan menyaksikan demo mahasiswa – yang katanya adalah kaum intelektual muda – justru berujung dengan tindakan anarkis. Kekerasan dalam dunia pendidikan seakan menjadi tradisi di negara kita, mulai dari bullying sampai tawuran, kekerasan dari tingkat SMP, SMA sampai mahasiswa. Berbagai macam psikotropika dan narkotika juga begitu banyak beredar di kalangan anak sekolah. Lebih mengerikan, penjual dan pembeli juga adalah orang-orang yang masih berstatus siswa. Demikian juga perilaku seks bebas yang semakin meningkat kuantitas dan kualitasnya di kalangan pelajar, sebagaimana yang ditunjukkan berbagai penelitian.

Persoalan yang tidak kalah seriusnya juga adalah praktek-praktek kebohongan dalam dunia pendidikan mulai dari nyontek di ujian sampai plagiarisme. Kalau sebagai siswa sudah terbiasa dengan tipu menipu alias manipulasi ujian, bagaimana nantinya kalau sudah lulus kuliah dan bekerja??? Bukannya akan melahirkan kembali Gayus-Gayus yang baru? Disamping itu etos kerja yang buruk, rendahnya disiplin diri dan kurangnya semangat untuk bekerja keras, keinginan untuk memperoleh hidup yang mudah tanpa kerja keras, nilai materialisme (materialism, hedonism) menjadi gejala yang umum dalam masyarakat kita.

Kiranya kita semua sepakat bahwa dunia pendidikan turut bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan-lulusan yang meski dari segi akademis sangat bagus tetapi dari segi karakter ternyata masih bermasalah.

Padahal kita semua tentu juga sepakat dengan pandangan yang menyatakan bahwa pendidikan sebagai nilai universal kehidupan memiliki tujuan pokok yang disepakati di setiap jaman, pada setiap kawasan, dan dalam semua pemikiran, yakni merubah manusia menjadi lebih baik dalam pengetahuan, sikap dan keterampilan. Bila pendidikan senyatanya bertujuan seluhur itu, sejalankah usaha-usaha pendidikan yang terjadi selama ini dengan tujuan mulianya? Secara jujur kita harus mengatakan TIDAK atau BELUM.

Cukup lama lembaga pendidikan kita/sekolah hanya berfokus pada prestasi akademik sebagai ukuran keberhasilan. Pandangan inilah yang membuat sekolah sebagai institusi pendidikan abai terhadap pembentukan karakter siswa. Padahal, sekolah yang dalam ilmu sosiologi diposisikan sebagai media sosialisasi ke dua setelah keluarga, mempunyai peran yang besar dalam mengenalkan dan menanamkan nilai-nilai dan norma-norma sosial dalam pembentukan kepribadiannya.

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh dalam peringatan Hardiknas tahun ini mengatakan”Pembangunan karakter dan pendidikan karakter menjadi keharusan karena pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik cerdas. Pendidikan juga untuk membangun budi pekerti dan sopan santun dalam kehidupan,” ujar Nuh. Tema peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini menitikberatkan pada pendidikan karakter “Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa”. Kita semua rasanya sangat setuju dengan pandangan tersebut. Pintar tetapi karakternya buruk jelas akan sangat bermasalah. Pintar tetapi tidak bisa menghargai sesama, tidak menghargai nilai-nilai kejujuran, kebenaran dan keadilan maka akan mendatangkan malapetaka bagi orang lain bahkan dalam scope yang lebih luas bagi bangsa kita ini.

Pengetahuan yang tinggi tetapi tanpa didasari oleh pemahaman tentang nilai-nilai yang benar maka hanya akan memberi kesempatan untuk bertumbuhnya benih-benih kejahatan yang akan termanifestasi dalam berbagai bentuk.

Masalah-masalah yang terjadi di negara kita sebenarnya menyangkut masalah karakter. Kekerasan, korupsi, manipulasi, tokoh atau pemimpin yang seharusnya menjadi teladan dan panutan serta menjadi penegak hukum malah memutarbalikkan hukum. Kita sebenarnya sudah terlambat dalam menerapkan pendidikan karakter ini. But better late than never. Ada yang mengatakan bahwa percuma menerapkan pendidikan karakter karena negara kita banyak korupsinya. Ini sih pemikiran yang terlalu pesimis. Masih banyak generasi muda kita yang duduk di bangku sekolah dan butuh pendidikan karakter agar di masa depannya dia menjadi orang yang tidak hanya cerdas secara intelek tapi juga karakter. Dunia pendidikan diharapkan menjadi motor penggerak seperti kata sang menteri ini untuk mengedukasi bangsa kita sehingga manusia Indonesia lebih berkarakter dan bermartabat serta mulia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: